Jumat, 20 Maret 2009

RIWAYAT KIAI MUARA OGAN

JIKA kita melongok ke tepian Sungai Ogan di kecamatan Kertapati, maka akan tampak sebuah masjid dengan arsitektur yang mirip dengan masjid Agung. Ornamen yang ada di Masjid Kiai Merogan menunjukkan berbagai budaya yang tumbuh di masyarakat Palembang pada waktu itu, yaitu perpaduan Melayu dan Timur dengan ciri keterbukaan. Itulah Masjid Kiai Merogan.

Masjid Kiai Merogan ini merupakan masjid kedua yang dibangun di Palembang, setelah Masjid Agung. Masjid Kiai Merogan didirikan pada tahun 1310 H atau 1890 M oleh ulama Palembang yang sangat terkenal, yaitu Ki Mgs. H. Abdul Hamid bin Mgs H. Mahmud alias K. Anang atau yang lebih dikenal dengan nama Kiai Merogan dengan biaya sendiri. Ki Mgs. H. Abdul Hamid bin Mgs H. Mahmud alias K. Anang atau Kiai Merogan ini dilahirkan pada tahun 1811 M dari seorang ulama dan pedagang yang sukses.

Kiai Merogan mendirikan masjid tersebut dengan sebuah naskah yang terdapat tulisan “Nuzar Nujal Lillahi Ta’alai” pada tanggal 6 Syawal 1310 H. Di masa Kesultanan Palembang masjid ini punya peran yang strategis dalam berbagai kegiatan keagamaan dan sosial masyarakat Palembang.

Kiai Merogan senantiasa mengajarkan zikir kepada pengikutnya dengan cara yang unik. Apabila Beliau akan pergi-pulang dari Masjid Kiai Merogan ke Masjid Lawang Kidul, sambil mengasuh perahu Beliau dan pengikutnya bersama-sama menyenandungkan zikir secara berulang-ulang. Karena itulah penduduk sekitar tahu kalau Kiai Merogan sedang lewat dan sejak itulah Beliau dikenal dengan nama Kiai Merogan. Nama Kiai Merogan sesuai dengan aktivitas Beliau yang sering berada di kawasan Muara sungai Ogan yang airnya mengalir ke sungai Musi.

Tidak hanya Masjid Kiai Merogan yang dibangun Kiai Merogan, tetapi Masjid Lawang Kidul yang berada di tepi Sungai Musi, di daerah seberang ilir, kelurahan 5 ilir. Selain itu, Kiai Merogan juga mendirikan masjid di desa Pedu, Pemulutan, OKI dan masjid di desa Ulak Kerbau Lama, Pegagan Ilir, OKI. Sangat disayangkan, kebakaran yang terjadi pada tahun 1964—1965 telah menghanguskan peninggalan karya tulis Kiai Merogan.

Semasa hidupnya, Ki Merogan melakukan pelawatan ke Mekkah dan Saudi Arabia untuk menuntut ilmu agama. Namun, selama berada di negeri orang, Beliau senatiasa terbayang dan teringat pada “Si anak Yatim” yang berada di tepian Sungai Ogan dan tepian Sungai Musi, yang tak lain adalah Masjid Kiai Merogan dan Masjid Lawang Kidul.

Kiai Merogan meninggalkan para pendukungnya pada 31 Oktober 1901 dan dimakamkan di sekitar Masjid Kiai Merogan Meskipun, Kiai Merogan telah lama tiada, makamnya dikeramatkan hingga kini dan senantiasa ramai dikunjungi para peziarah yang datang dari berbagai daerah untuk berdoa dan mendapat berkah.

Kiai Merogan dapat dipandang sebagai sejarah kolektif (folk history). Cerita-cerita orang-orang suci (legends of the saints) dapat terus hidup di tengah masyarakat pendukungnya.

Cerita-cerita mengenai kemujizatan, wahyu, permintaaan melalui sembahyang, kaul yang terkabul, dan lain-lain dapat kita peroleh melalui pewarisan lisan dari waktu ke waktu, di antaranya kisah mengenai ikan.

Pada suatu waktu ada pedagang ikan yang berasal dari OKI membawa ikan yang hendak dijualnya ke Palembang. Namun, ketika sampai di Palembang, semua ikan-ikan tersebut mati. Lalu, pedagang itu teringat akan kemasyuran Kiai Merogan. Kemudian pedagang tersebut menemui Kiai Merogan untuk meminta nasihat. Belum sempat pedagang itu berkata sepatah katapun, Kiai Merogan langsung berkata, “Insya’Allah, semua ikan-ikanmu hidup dan dapat dijual ke pasar!” Ketika sampai di perahu, pedagang itu melihat seluruh ikan-ikannya hidup.

Kisah lainnya, ketika seseorang ingin membuktikan kekeramatan Kiai Merogan dengan cara melepas seekor ikan yang besar, sambil berkata “Hai Ikan, pergilah Engkau menemui Kiai Merogan di Masjid Merogan!” Belum sempat mengutarakan maksudnya, sang Kiai lebih dulu menyapanya dan berkata kalau kirimannya sudah sampai dan diterima dengan baik.

Kiai Merogan memang telah lama tiada, namun peninggalannya tetap abadi dan berdiri kokoh. Kisah, perjuangan, dan ajarannya senantiasa hidup, hadir, dan menjadi teladan masyarakat pendukungnya dari waktu ke waktu /Linny Oktovianny/

Senin, 08 Desember 2008

CERITA PUYANG SUMATERA SELATAN

/Linny Oktovianny/


KHASANAH
kesusastraan daerah di Indonesia tersebar dari Sabang hingga Merauke. Kesusastraan tersebut lahir dari berbagai etnis, suku bangsa, yang berbeda gagasan, nilai, norma, dan aturan. Hal itu mencerminkan kekayaan khasanah kesusastraan daerah di Indonesia yang beragam baik bentuk maupun isi.

Sumatera Selatan merupakan salah satu daerah di Indonesia yang memiliki beragam kekayaan tradisi lisan. Tradisi lisan tersebut mencakup segala hal yang berhubungan dengan sastra, sejarah, biografi, dan berbagai pengetahuan serta jenis kesenian disampaikan dari mulut ke mulut.

Tradisi lisan Sumatera Selatan sangat luas bagaikan hutan belantara yang masih memerlukan sentuhan intelektual untuk menggali sumber-sumber atau potensi fakta dan budaya yang masih tersembunyi. Potensi dan fakta tersebut menurut Edy Sedyawati, paling tidak meliputi: (1) sistem genealogi; (2) kosmologi dan kosmogoni; (3) sejarah; (4) filsafat, etika, dan moral; (5) sistem pengetahuan (local knowledge), dan kaidah kebahasaan dan kesastraan.

Salah satu bentuk tradisi lisan adalah sastra lisan. Menurut Shipley, sastra lisan adalah jenis atau kelas sastra tertentu yang dituturkan dari mulut ke mulut, tersebar secara lisan, anonim, dan menggambarkan kehidupan masa lampau. Sastra lisan mencakup bahasa rakyat, ungkapan tradisional, pertanyaan tradisional, cerita prosa rakyat, dan nyanyian rakyat. Cerita prosa rakyat dibagi menjadi tiga golongan besar, yaitu: mite, legenda, dan dongeng.

Cerita prosa rakyat Sumatera Selatan yang maih tetap bertahan dan dikenal masyarakat adalah cerita mengenai Puyang-puyang. Cerita Puyang hampir terdapat di berbagai daerah di Sumatera Selatan. Cerita Puyang ini menjadi suatu cerita yang unik karena hanya dapat ditemukan di wilayah Sumatera Selatan_namun perlu dilakukan kajian dan penelitian lebih lanjut mengenai hal ini_. Daerah lain di Indonesia juga ada cerita prosa rakyat yang memiliki tokoh sakti atau tokoh hebatan atau wira atau pahlawan dengan nama yang berbeda-beda.

Cerita Puyang biasanya dewa atau pahlawan kebudayaan ketika dunia belum seperti sekarang ini. Cerita Puyang hadir dan berakar pada kwalitas pemiliknya yang sekaligus sangat memercayainya dan mengagung-agungkannya. Cerita Puyang merupakan produk budaya yang disampaikan secara terus-menerus dan turun-temurun melalui pewarisan lisan. Terkadang disertai bukti-bukti sejarah, seperti benda-benda dan temapat-tempat keramat (makam atau tapak tilas) yang mendukung keberadaan Puyang-puyang.

Puyang diyakini oleh masyarakat Sumatera Selatan sebagai tokoh sakti yang merupakan sossok nenek moyang (keturunan) etnik tertentu di Sumatera Selatan. Cerita Puyang umumnya menampilkan tokoh dengan penampilan luar biasa. Keluarbiasaan biasanya ditandai dengan berbagai sifat yang tidak dimiliki oleh manusia biasa, di antaranya berupa tampilan sebagai manusia dengan sifat-sifat yang diidam-idamkan, yang mengherankan, atau yang menakutkan. Penampilan citra seperti itu sangat tergantung pada selera dan konteks masyarakat tempat lahirnya Puyang-puyang tersebut.

Di Besemah kita begitu mengenal sosok Atong Bungsu, yang diyakini sebagai tokoh yang dimitoskan oleh masyarakat setempat sebagai tokoh sakti pembawa pembaharuan. Ada pula Si Pahit Lidah yang diyakini masyarakat di beberapa daerah di Sumatera Selatan juga sebagai tokoh yang dimitoskan. Kisah hidup Si Pahit Lidah begitu populer di kalangan masyarakat Sumatera Selatan.

Cerita Puyang Sumatera Selatan yang pernah diinventaris dan diteliti, antara lain:

(1) Puyang Belulus (Besemah)

(2) Puyang Tungkuk (Besemah)

(3) Puyang Kerbau Menyeberang (Besemah)

(4) Puyang Siak Mandi Api (Besemah)

(5) Puyang Tanjung (Besemah)

(6) Puyang Bege (Besemah)

(7) Puyang Depati Konedah (Musi)

(8) Puyang Ronan (Musi)

(9) Puyang Remanjang Sakti (Enim)

(10) Puyang Gadis (Lematang)

(11) Tuan Puyang Ndikat (Lematang)

(12) Puyang Rakian Sakti dengan Ratu Acih (Aji)

Cerita Puyang biasanya memiliki ciri-ciri tertentu dan merupakan sosok yang sangat hebat dan superior. Tokoh tersebut seolah-olah selalu tahu apa yang terjadi dan akan terjadi. Ia adalah sosok yang hampir tidak pernah kalah dalam segi apapun (mengalahkan dirinya dan orang lain). Kesaktian dan keajaiban yang dimilikinya sangat disegani oleh pengikutnya maupun musuh-musuhnya. Umumnya cerita Puyang-puyang tersebut senantiasa membawa pertolongan demi penyelamatan orang-orang yang berhati baik dan memiliki kebenaran dari orang-orang jahat yang menganiaya atau menzaliminya.

Puyang merupakan orang sakti atau orng suci dan bahkan kadang-kadang bagi sebagian pewaris aktifnya dianggap sebagai Dewa. Selain itu, Puyang adalah sosok yang baik hati bukan hanya kepada manusia tetapi makhluk lain, seperti hewan dan tumbuh-tumbuhan.

Puyang dapat pula berlaku sebaliknya kepada orang-orang jahat dan berkelakuan buruk. Dengan kesaktiannya yang luar biasa Puyang-puyang tersebut dapat menumpahkan kemarahannya dengan hukuman yang berat, bahkan mengutuknya. Nama Puyang-puyang biasanya sangat akrab dan dikenal luas di tengah masyarakat hingga kini.

Minggu, 12 Oktober 2008

BUKAN SEKEDAR BAMBU


/linny oktovianny/

DALAM kehidupan berbudaya masyarakat, khususnya masyarakat Sumatera Selatan memiliki tradisi tulis dengan menggunakan media bambu. Di bambu-bambu itulah aksara tertulis. Aksara yang tertulis di bambu-bambu tersebut adalah aksara Ka-Ga-Nga. Aksara Ka-Ga-Nga sangat terkenal di Sumatera Selatan dan dikenal dengan nama yang beraneka ragam, seperti aksara Rencong, Surat Besemah (disesuaikan dengan daerah atau etnis masing-masing daerah), dan surat ulu. Dinamakan Surat Ulu oleh masyarakat pendukungnya karena umumnya kata “ulu” atau “uluan” merupakan sebutan bagi masyarakat atau budaya yang berada di luar Palembang, terletak di bagian ilir aliran sungai di Sumatera selatan.
Tidak hanya Sumatera Selatan yang memiliki aksara yang ditulis di atas bambu-bambu, melainkan daerah lain di indonesia juga mengenal dan menggunakan aksara Ka-ga-Nga dalam kehidupan tradisi tulis mereka. Daerah-daerah tersebut, antara lain daerah Kerinci dan Minangkabau mengenal aksara Ka-Ga-Nga dengan sebutan aksara rencong. Lampung dan Bengkulu juga menggunakan dan menyebut aksara ini dengan sebutan aksara Ka-Ga-Nga.
Di atas bilah-bilah atau kepingan bambu, aksara Sumatera Selatan tertulis. Hampir secara keseluruhan Surat Ulu atau huruf Ka-Ga-Nga tertulis di atas bambu, antara lain bambu betung (Dendrocolamuc Asper BACKER) atau juga yang sering disebut bambu besar karena berukuran besar. Bambu jenis ini juga dikenal dengan nama yang beraneka ragam, antara lain trieng betong (Aceh), pering betung (Lampung), awi betung (Sunda), dan deling betung (Jawa). Bambu betung masuk ke dalam suku Giganthochloa Dendrocolamus dengan ciri-ciri pohon bambu yang sangat kuat, tegak, merumpun dan tingginya dapat mencapai tigapuluh (30) meter, batangnya tidak tumbuh berjejalan, dan buku-bukunya sangat jelas.
Apabila bambu akan digunakan sebagai media yang akan ditulisan aksara Ka-Ga-Nga atau surat Ulu memiliki syarat-syarat tertentu agar bambu betung tersebut tidak berubah warna. Bambu tersebut harus terlebih dahulu direndam dengan air yang banyak dan waktu yang lama. Kemudian bambu betung tersebut harus dijemur hingga kering. Bambu-bambu yang biasa ditulisi aksara ini oleh masyarakat Sumatera Selatan, termasuk Palembang dikenal dengan nama gelumpai. Bentuknya berupa satu ruas bambu yang bulat dan ada juga yang terdiri dari beberapa keping bilah bambu.
Secara keseluruhan huruf Ka-Ga-Nga atau surat ulu yang berupa Gelumpai ini dapat juga kita temui di berbagai daerah di Sumatera Selatan. Salah satu tempat yang memiliki dan kaya akan gelumpai yang penting bagi pelestarian huruf Ka-Ga-Nga atau surat ulu adalah daerah Tanjung Keling dan Benua Keling, Kecamatan Dempo Selatan, Kota Pagaralam. Sayangnya, tidak sembarang orang yang dapat melihat bahkan memegang langsung gelumpai tersebut. Ada berbagai tabu-tabu dan mistis tertentu untuk dapat melihat benda yang sudah langka diketemukan ini. Persoalan ini, ibarat melihat dua keping mata uang. Salah satu kepingnya ada upaya untuk pelestariannya. Sementara, salah satu kepingnya, kita berhadapan dengan para pemilik naskah gelumpai ini yang masih memercayai tabu-tabu tertentu apabila naskah berbentuk gelumpai ini diperlihatkan oleh orang-orang apalagi orang yang baru dikenal. Pemilik naskah gelumpai ini mengkhawatirkan kalau-kalau dia dan keluarganya akan kualat karena memperlihatkan benda yang amat keramat ini.
Selain tesebar di masyarakat Sumatera Selatan, naskah berbentuk gelumpai ini dapat kita jumpai di Museum Balaputra Dewa, Palembang. Naskah berkode Inventaris 07.7 ini tanpa judul. Bambu bulat berukuran panjang 57 cm dan lingkar bambu 24 cm. Gelumpai (ruas bambu) ini merupakan ruas bambu yang seluruh permukaannya menggunakan huruf Ka-Ga-Nga atau surat ulu ini terdapat 17 (tujuh belas baris) yang isinya memuat petunjuk-petunjuk dalam mencapai manusia kebahagian hidup dan akhirat dan juga terkandung peringatan bagi manusia supaya tidak lupa diri. Keadaan gelumpai (Ruas Bambu) ini keadaannya cukup baik, dalam arti huruf-hurufnya masih dapat terbaca atau terlihat. Sayangnya, gelumpai ini sudah mulai berwarna kehitam-hitaman karena dimakan usia atau mungkin pada waktu pembuatan atau penulisan ini tidak menggunakan proses yang lazim apabila bambu jenis ini akan ditulisi aksara Ka-Ga-Nga.
Selain berbentuk gelumpai ruas bambu, ada juga untaian gelumpai yang sering disebut bila bambu yang juga merupakan koleksi Museum Balaputra Dewa, Palembang. Gelumpai ini ada 14 (empatbelas) keping bambu yang berbentuk seperti kipas. Terdapat tulisan yang menggunakan aksara rencong atau surat ulu, diperkirakan menggunakan bahasa Jawa Tengahan. Isi dari tulisan ini tentang ajaran Islam yang mengatur pranata kehidupan sosial kemasyarakatan. Untaian gelumpai ini berukuran panjang 14 cm dan lebar 4 cm dengan setiap bilah gelumpai berisi empat baris. Teksnya berupa prosa dengan tulisan surat ulu atau huruf Ka-Ga-Nga, berbahasa Palembang. Naskah ini terawat dengan baik dan masih dapat terlihat atau terbaca setiap huruf dalam teksnya. Kini untaian bilah bambu tersebut tinggal 14 bilah bambu, meskipun seharusnya ada 24 bilah bambu.
Perlu adanya upaya dan iklim yang kondusif agar pelestarian naskah lama mendapat tempat di hati berbagai kalangan masyarakat. Jika tidak, kita akan kehilangan budaya berupa tradisi tulis masyarakat Sumatera Selatan, yang tentu saja tak ternilai harganya. Melalui tradisi tulis kita dapat melihat dan mempelajari bahwa Sumatera Selatan sejak dulu kala telah memiliki budaya yang tinggi. Tidak ada kata terlambat untuk memulainya!

Jumat, 10 Oktober 2008

HIRING-HIRING AKANKAH TINGGAL CERITA?


/linny oktovianny/

Kabupaten OKU Timur terletak di Provinsi Sumatera Selatan dengan ibukota Martapura, yang dibentuk berdasarkan Undang-undang No.37 Tahun 2003 . Kabupaten yang merupakan pemekaran dari kabupaten Ogan Komering Ulu ini, kini lebih memiliki keleluasaan untuk menggali dan mengembangkan potensi yang ada di daerah tersebut. Salah satu potensi yang ada di daerah ini adalah kehidupan sastra lisan yang beragam bentuk maupun isinya. Sastra lisan yang tersebar di daerah OKU Timur ada yang berbentuk puisi dan prosa. Salah satu sastra lisan yang berbentuk puisi adalah Hiring-hiring atau iring-iring.

Hiring-hiring merupakan pantun bersahut antara muda-mudi di zaman tahun 1960-an pada saat menyambut bulan bulan bara atau bulan Purnama yang jatuh pada tanggal 14 setiap bulan. Selain itu hiring-hiring dapat dituturkan pada saat acara ningkuk malam pengantin (berlangsungnya pesta pernikahan), malam bulan bara, dan nunggal, saat acara bujang gadis yang dipimpin ketua bujang (meranai) dan ketua gadis (muli). Saat ini hiring-hiring digunakan sebgai sumber motivasi untuk pembangunan masyarakat, namun masih saja sarat dengan pesan-pesan budaya nenek moyang bangsa, di antaranya rendah hati, disiplin, rela berkorban demi kepentingan daerah, dan sebagainya.

Hiring-hiring yang dituturkan saat pertunangan maupun pernikahan tentunya memiliki diksi-diksi tempatan yang berbeda. Ada juga hiring-hiring yang bercerita mengenai sejarah. Hal ini tentu saja berguna agar masyarakat khususnya generasi muda paham akan cerita latar belakang sejarah.

Setakat ini, di tengah kemajuan ilmu dan teknologi sudah jarang orang yang dapat dan fasih menuturkan hiring-hiring, dikhawatirkan suatu saat apabila tidak ada upaya untuk mengatasi masalah ini, dikhawatirkan musnahnya sastra lisan hiring-hiring ini, dan bukan mustahil kita akan kehilangan hiring-hiring yang pernah menjadi identitas masyarakat Komering.


Sebetulnya, ada berbagai upaya untuk menumbuhkembangkankan hiring-hiring ini, antara lain melalui pertunjukan atau keramaian rakyat dan festival. Namun langkah yang paling efektif pengajaran hiring-hiring melalui dunia pendikan, seperti kegiatan ekstrakurikuler, seni budaya, maupun muatan local. Mudah-mudahan dengan cara yang demikian hiring-hiring tidak hanya menjadi cerita bagi anak-cucu kita kelak.


Berikut petikan Hiring-hiring:

1. Ram tong-tong ko di rakyat

Bai bakas tuhha ngura

Lapah sai hurik nekat

Ngunut se mak kung mangka

2. Ram diwai di Kemering

Iwa na nimbah timbah

Langgian jala jaring

Baka ninjuk mak susah

3. Rakyat di OKU Timur

Suku nan lamon nihhan

Tapi mak simpang siur

Sebiduk sehaluan

4. Purikah perabasa

Cingcingan jak lom hati

Mak emas kimak cawa

Mak inton kimak budi

5. Kintu di terak gawi

Kunyin na cirub ragom

Mawas manom herani

Mak mungkir atot seram

6. Rakyat di OKU Timur

Unyin mak pandai buya

Tiap rani bu sukur

Sembahyang mak mat lupa

7. Batu henni Kemering

Lamon liyu jak iwa

Belitang ngari rinjing

Baka nunggang mak buya

8. Kemering Jawa Bali

Sunda Ugan rik Padang

Mak ketinangan lagi

Kinjuk sanga kerumpang

9. Wat mulih rupa hibbah

Jak ninik muyang paija

Mak salah lahgu rebah

Mak bangsa cadang bakna

10. Rasa hurik mak numpang

Walau bubeda suku

Martapura Belitang

Nutuk Pak Herman Deru


Terjemahannya:

1. Kita perhatikan rakyatnya

Perempuan, lelaki tua dan muda

Kehidupannya penuh tekad,

Mencari rezeki agar sejahtera

2. Kita masuk wilayah Komering

Ikannya sangatlah banyak

Alat-alat perangkap, seperti sedok, jala, dan jaring

Untuk menangkap ikan telah siap

3. Rakyat di OKU Timur

Terdiri dari berbagai suku

Tapi rukun itu menjadi kunci dalam wadah

Sebiduk satu tujuan

4. Berbicara dengan tata krama dan tutur sapa

Memang sudah lama tertanam di hati

Tutur sapa bernilai emas

Tata krama bernilai intan permata

5. Kalau mengerjakan pekerjaan

Semuannya gotong royong dengan tulus

Siang malam pekerjaan itu

Tiada mundur setapak pun

6. Rakyat di OKU Timur

Tiada pernah merasa lelah

Tiap hari selalu bersyukur

Kerjakan sembahyang tiada lupa

7. Batu koral pasir Komering

Sangat banyak sekali

Daerah Belitang yang membuatkan bakul untuk mengambilnya

Agar pekerjaan itu tiada mengalami kesusahan

8. Komering, Jawa, dan Bali

Sunda, Ogan, dan Padang

Tiada tercecer lagi

Satu kesatuan yang utuh

9. Ada sebuah hibah

Dari nenek moyang dahulu kala

Semakin berisi semakin merendah

Tidak akan mengurangi harga diri

10. Merasa kehidupan ini tenang

Walau berbeda suku

Martapura Belitang

Mengikuti jejak Pak Herman Deru

Jumat, 27 Juni 2008

Legenda Pulo Kemaro

SALAH satu legenda yang sangat populer di tengah masyarakat Palembang dan Tiongha adalah Legenda Pulo Kemaro ‘Legenda Pulau Kemarau’. Legenda Pulo Kemaro telah diwarisi turun-temurun secara lisan antargenerasi melalui alat pembantu pengingat (mnemonic device). Wajar saja apabila dijumpai banyak versi mengenai cerita legenda Pulo Kemaro. Hal ini disebabkan karena cara penyebarannya yang dari mulut ke mulut (lisan) bukan cetakan atau rekaman, sehingga ada proses lupa diri manusia atau proses interpolasi (interpolation). Proses interpolasi merupakan penambahan atau pengisian unsur-unsur baru pada cerita yang diperoleh melalui warisan lisan sehingga dengan mudah dapat mengalami perubahan. Meskipun begitu perbedaannya hanya terletak pada bagian luarnya saja, sedangkan bentuk dasarnya dapat tetap bertahan.

Satu versi menyebutkan bahwa zaman dahulu hubungan dagang antara Palembang dan Cina berlangsung baik sehingga terjadi perkawinan antara putra Palembang dan putri Cina. Setelah menikah Putri Cina tersebut menetap di Palembang. Nama Putri Cina itu setelah menikah bernama Siti Fatimah.

Ketika ada pedagang Cina yang akan ke Palembang, sang Ibu menitipkan emas permata kepada anaknya Siti Fatimah karena sudah lama tak berjumpa dengan anaknya dan saking sayangnya ibunya kepada Siti Fatimah. Namun karena pada zaman dahulu banyak perompak di perairan Sungai Musi maka emas permata tersebut dimasukkan di dalam guci dan dilapisi dengan sayur sawi. Lama kelamaan karena perjalanan yang jauh sawi-sawi yang berfungsi untuk melapisi emas permata tersebut busuk.

Ketika sampai di Palembang, guci titipan dari orangtua Siti Fatimah tersebut diserahkan oleh pedagang dari Cina kepada Siti Fatimah. Betapa terkejutnya Siti Fatimah ketika dibukanya guci titipan Ibunya dari negeri Cina hanya berupa sawi-sawi yang sudah membusuk. Siti Fatimah kecewa dan marah, lalu guci-guci tersebut dibuangnya ke laut. Sampai guci yang ketujuh akan dibuangnya ke sungai, terbenturlah guci itu di tiang kapal sehingga pecah. Rupanya di bawah sawi-sawi yang telah membusuk tersebut terdapat emas permata. Lalu, seketika itu pula Siti Fatimah menyuruh suaminya mengambil guci-guci tersebut yang telah dibuangnya ke sungai.

Lama Siti Fatimah menunggu suaminya keluar dari sungai, namun tak juga muncul ke permukaan. Karena lama menunggu Siti Fatimah, akhirnya ia menyusul menyelam ke sungai. Tempat Siti Fatimah dan suaminya yang tenggelam tersebut menjadi pulau yang diberi nama Pulo Kemaro.

Versi lain menyebutkan bahwa ada seorang putra raja Cina bernama Tan Bun Ann berniaga ke tanah Palembang. Ketika di tanah Palembang, Tan Bun Ann jatuh hati dengan putri Palembang bernama Siti Fatimah. Tan Bun Ann dan Siti Fatimah saling jatuh hati. Tan Bun Ann pun menghadap ayah Siti Fatimah hendak melamar Siti Fatimah menjadi istrinya. Ayah Siti Fatimah memperbolehkan Siti Fatimah dilamar oleh Tan Bun Ann dengan mengajukan syarat kepada Tan Bun Ann agar menyediakan sembilan guci yang berisi emas. Ketika Tan Bun Ann memberitahukan perihal lamaran tersebut, keluarga Tan Bun Ann menyediakan sembilan guci emas. Karena khawatir akan keselamatan guci yang berisi emas tersebut maka guci-guci tersebut dilapisi sayur sawi.

Sesampai di tanah Palembang, Tan Bun Ann memeriksa isi guci tersebut. Betapa terkejutnya Tan Bun Ann ketika dilihatnya guci-guci tersebut hanya berisi sayur sawi yang telah busuk. Dengan penuh kemarahan Tan Bun Ann membuang guci-guci tersebut. Satu per satu guci-guci tersebut dibuangnya ke sungai. Sampai guci ketujuh yang pecah terkena kapalnya, terlihatlah oleh Tan Bunn emas yang ada di dalam guci tersebut.

Melihat hal tersebut Tan Bun Ann menyesali perbuatannya dan segera menyeburkan dirinya ke dalam sungai hendak mengambil emas-emas yang telah jatuh ke dalam sungai.

Melihat Tan Bun Ann tak muncul-muncul, akhirnya Siti Fatimah pun menyeburkan dirinya ke dalam sungai sembari berpesan, “Kalau ada tanah yang tumbuh di tepian sungai ini, berarti itu kuburan saya”.

Versi lainnya menyebutkan bahwa pulau ini adalah kapal Tan Bun Ann yang ditinggalkannya karena Tan Bun Ann menyebur ke sungai. Hal ini didasari bahwa bentuk Pulo Kemaro berbentuk seperti kapal.

Pulo Kemaro ‘Pulau Kemarau’ berarti pulau yang tidak pernah kebanjiran atau digenangi air meskipun volume sungai Musi sedang pasang. Pulo Kemaro terletak di sebelah timur kota Palembang dengan luas wilayah lebih kurang 24 hektar menyimpan misteri mengenai kisah cinta dua insan yang berbeda etnis yang saling jatuh cinta. Di Pulo Kemaro terdapat Klenteng Hok Tjing Rio dan di dalamnya terdapat Dewa Bumi (Hok Tek Cin Sin) yang merupakan dewanya umat Budha. Di Kompleks ini juga terdapat makam Siti Fatimah.

Cerita Legenda Pulo Kemaro tergolong legenda setempat karena berhubungan dengan suatu tempat, nama tempat, dan bentuk topografi, yaitu dengan bentuk permukaan suatu daerah yang berbukit-bukit, berjurang, dan sebagainya.

Kini Klenteng Hok tjing Rio luasnya 3, 5 hektar merupakan salah satu bukti kehadiran Cina di bumi Sriwijaya. Di Pulo Kemaro kita dapat melihat harmonisasi antaretnis yang berbeda keyakinan.

Linny Oktovianny

Minggu, 08 Juni 2008

Andai-Andai Musi Banyuasin



MUSI BANYUASIN kaya dengan sastra lisan. Sastra lisan tersebut tersebar dan menjadi milik masyarakat Musi Banyuasin (Muba). Salah satu sastra lisan yang ada di Muba adalah cerita rakyat. Cerita rakyat yang tumbuh dan berkembang di wilayah Muba disebut Andai-Andai.

Andai-Andai sudah diketahui masyarakat Muba sejak lama. Sebagai produk masyarakat kolektif masa lalu andai-andai memilik nilai-nilai yang dapat kita petik dengan cara mendengarkan lantunan cerita yang dituturkan penutur. Nilai-nilai tersebut antara lain nilai-nilai kehidupan, nilai moral, dan nilai kepahlawanan. Melalui andai-andai kita dapat melihat gagasan-gagasan, pandangan kehidupan, sistem masyarakat, sistem kebudayaan, dan pesan-pesan yang hendak disampaikan dalam andai-andai. Tidaklah berlebihan, jika dikatakan andai-andai merupakan cermin pribadi masyarakat Muba masa lalu. Penuturan andai-andai adalah milik masyarakatnya, yang merupakan cermin budaya daerah yang harus dan perlu dilestarikan dalam upaya menumbuhkembangkan serta melestarikan budaya nisantara melalui budaya daerah, yang sering disebut sebagai kearifan lokal.

Pada masa lalu andai-andai dapat kita temui di berbagai daerah seperti Sungai Lilin, Babat Toman, Sanga Desa, Sekayu, Lalan, Bayung Lincir, Batanghari Leko, Sungai Keruh, Lais, Keluang, dan Plakat Tinggi. Andai-andai umumnya dituturkan oleh orang tua berusia empatpuluhan tahun ke atas baik laki-laki maupun perempuan dengan medium bahasa Musi. Umumnya penutur mewarisi cerita dari orangtua mereka. Andai-andai dituturkan pada malam hari, pada waktu senggang atau saat sedang beristirahat, dalam suasana santai pada saat orang tua, remaja, atau anak-anak sedang berkumpul di suatu tempat. Selain itu, andai-andai dapat dituturkan saat kenduri maupun saatpanen tiba.. Andai-andai dituturkan secara monolog oleh penutur. Tidak ada syarat untuk dapat menguasai andai-andai. Yang penting, penutur tahu dan paham cerita di sekitar kehidupan masyarakat Muba. Bagi masyarakat pendukung andai-andai, semakin menarik penutur menuturkan andai-andai, semakin betah pula pendengar mendengarkan andai-andai sampai selesai dituturkan. Biasanya karena nikmat mendengar andai-andai, pendengar akan larut dalam jalinan cerita yang dituturkan penutur.

Andai-andai ada yang panjang dan ada yang pendek. Penuturan andai-andai yang panjang memerlukan waktu berjam-jam lamanya bahkan semalam suntuk lamanya, sedangkan andai-andai yang pendek memakan waktu sebentar. Andai-andai yang panjang biasanya mengisahkan sejarah masyarakat Muba, contohnya Ranggonang. Andai-andai yang pendek umumnya berupa dongeng. Andai-andai ada yang berbentuk legenda, mite, dan dongeng. Legenda adalah prosa rakyat yang mempunyai ciri-ciri yang mirip dengan mite, yaitu dianggap pernah benar-benar terjadi, tetapi tidak dianggap suci. Legenda ditokohi manusia, walaupun ada kalanya mempunyai sifat-sifat yang luar biasa, dan sering dibantu makhluk-makhluk ajaib. Tempat terjadinya di dunia seperti yang kita kenal kini, karena waktu terjadinya belum terlalu lampau. Andai-andai yang berupa legenda adalah Rio Raos, Lubuk Gong, Gumamia, dan Raja Panenca. Mite adalah cerita prosa rakyat, yang dianggap benar-benar terjadi serta dianggap suci oleh yang empunya cerita. Mite ditokohkan oleh para dewa atau makhluk setengah dewa. Peristiwa terjadi di dunia lain atau bukan di dunia yang bukan seperti yang kita kenal sekarang, dan terjadi pada masa lampau. Contohnya Ginde Sugih, Anjing Menjadi Manusia, benda Ajaib, Dewi Selang, Puyang Ronan, dan Depati Konedah. Dongeng adalah prosa rakyat yang tidak dianggap benar-benar terjadi oleh empunya cerita dan dongeng tidak terikat oleh waktu maupun tempat, antara lain Bujuk dan Tupai, Beruk Sayang, Gadis cantik di Kebun Bunga, Wewe dan Siamang, dan Sang Kadolok.

Andai-andai yang pernah menjadi bagian penting dari kehidupan para pewarisnya telah lama berkembang sebelum sastra tulis digunakan sebagai wahana untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan. Dalam andai-andai kita dapat menggali sumber-sumber atau potensi fakta dan budaya yang meliputi (1) sistem genealogi, (2) kosmologi dan kosmogoni, (3) sejarah, (4) filsafat, etika, moral, (5) sistem pengetahuan (local knowledge), dan kaidah kebahasaan dan kesastraan.

Dengan memberikan perhatian secara lebih seksama, andai-andai akan lebih dikenal luas di kalangan masyarakat sebagai warisan budaya bangsa yang tak akan pupus ditelan masa. Andai-andai masih dapat menjadi bagian penting dari kebudayaan para pewaris aktif dan pewaris pasifnya. Bagi para pewaris aktifnya, andai-andai memiliki kekuatan dasar yang dapat dimanfaatkan. Kekuatan dasar pertama adalah kekuatan yang bermakna spiritual. Maksudnya pesan-pesan mulia yang tersembunyi dalam andai-andai dapat digunakan sebagai pedoman atau acuan dalam meningkatkan kwalitas kehidupan. Kekuatan dasar yang kedua adalah kekuatan yang bermakna ekonomis. Andai-andai yang berupa mite, legenda, maupun dongeng dapat menjadi komoditas yang laku dijual ketika andai-andai tersebut diangkat ke atas panggung, layar perak, layar kaca sebagai seni pertunjukan atau disajikan dalam bentuk sastra tulis berupa novel, roman, cerpen, atau pula dikemas dalam bentuk sandiwara radio. Siapa ingin mencoba? *Linny Oktovianny*

Foto Atas dan bawah: Anwar dan Majening. Selain dapat menuturkan senjang, Anwar dan Majening juga dapat menuturkan andai-andai



Kamis, 29 Mei 2008

Nyanyian Panjang: Berirama dan Lama

Penuturan Nyanyian Panjang di hadapan para pendengarnya

SESUAI dengan namanya nyanyian panjang, saat penutur melantunkan penuturan sastra lisan ini dilakukan secara berlagu dengan irama tertentu, seperti nyanyian dengan proses penuturan yang memakan waktu yang lama, yaitu berjam-jam lamanya. Nyanyian panjang merupakan salah satu genre atau bentuk folklore yang terdiri dari kata-kata dan lagu, yang beredar secara lisan di antara anggota kolektif tertentu, berbentuk tradisional, serta banyak mempunyai varian. Nyanyian panjang dikenal luas oleh masyarakat pendukungnya. Ia hidup dan dihidupi oleh masyarakat tempat sastra lisan tersebut lahir, tumbuh, dan berkembang serta menjadi budaya yang tak terpisahkan dari masyarakatnya. Daerah di Sumatera selatan yang mengenal nyanyian panjang adalah sekitar wilayah Kabupaten Muara Enim, daerah Ogan termasuk di dalamnya Ogan Komering Ulu.

Nyanyian panjang berasal dari bermacam-macam sumber dan timbul dalam berbagai macam media tetapi identitas folkloritasnya masih dapat dikenali karena masih ada varian folklornya yang beredar dalam peredaran lisan (oral transmission). Nyanyian panjang dikenal juga dengan nama tembang panjang atau njang panjang. Dengan berbagai tema yang disuguhkan penutur kepada pendengar, nyanyian panjang mendapat tempat di hati masyarakat pendukungnya. Nyanyian panjang yang dikenal masyarakat pendukungnya adalah nyanyian panjang Raden Alit dan nyanyian panjang Sejarah Saman Diwa. Kisah kedua nyanyian panjang tersebut telah “membumi” di tengah masyarakat pendukungnya. Saat ini, nyanyian panjang telah muncul dengan cerita-cerita lisan yang beragam tetapi unsur kepahlawanan tokoh “pahlawan” dengan sosok yang memiliki kegagahan dengan keberanian dan kelebihan yang luar biasa menjadi suguhan yang menarik bagi pendengarnya.

Seperti halnya sosiokultural masyarakat pendukung sastra lisan tersebut lahir, tumbuh, berkembang, dan mendapat tempat di hati masyarakat, maka sarana atau alat yang digunakan saat penuturan cerita juga memiliki “warna tempatan”. Masyarakat pendukung nyanyian panjang adalah masyarakat petani, maka alat yang digunakan saat berlangsungnya penuturan oleh penutur adalah ayakan padi. Ayakan padi menjadi symbol masyarakat pedesaan yang menggantungkan hidupnya dari hasil-hasil pertanian.

Wilayah Sumatera selatan yang sebagian besar dilikupi oleh anak-anak sungai, maka terkadang ayakan tersebut digunakan oleh nelayan untu menangkap ikan atau menjadi wadah ikan. Terlepas dari kedua hal itu, ayakan padi bukan hanya menjadi imbol sosiologis masyarakat pendukung keberadaan nyanyian panjang, ayakan tersebut juga memiliki manfaat sebagai sarana kosentrasi dan pengingat. Melalui lubang-lubang pada ayakan, maka penutur akan tahu cerita yang telah dituturkan atau sedang dituturkannya.

Nyanyian panjang dituturkan dengan bahasa masyarakat setempat, seperti bahasa Ogan, Bahasa Belide, dan bahasa enim. Di masa lalu nyanyian panjang dituturkan saat panen telah tiba, saat ada hajatan masyarakat, seperti pesta pernikahan, pada acara khitanan, dan pada saat kelahiran bayi bahkan kalau ada orang yang meninggal dunia. Penutur nyanyian panjang umumnya adalah laki-laki berusia matang, kira-kira di atas tigapuluh tahun.

Dalam nyanyian panjang, kata-kata dan lagu-lagu merupakan dwi tunggal yang tak dapat terpisahkan. Ketika penutur melantunkan nyanyian panjang, teks (kata-kata) selalu dinyanyikan atau dilagukan oleh informan dan jarang sekali hanya disajakkan. Namun, antara teks yang satu dengan yang lainnya tidak selalu dinyanyikan atau dilagukan dengan lagu atau irama yang sama. Sering pula, lagu yang sama sering dipergunakan untuk menyanyikan beberapa teks nyanyian panjang yang berbeda.

Sifat nyanyian panjang sering kali berubah-ubah baik bentuk maupun isi. Itu bagian yang tak terpisahkan dari budaya lisan. Nyanyian panjang merupakan milik kolektif masyarakatnya dan luas pula peredarannya karena disampaikan dari mulut ke mulut. Penyebarannya melalui lisan, sehingga dapat menimbulkan varian-varian.

Nyanyian rakyat yang tergolong pada nyanyian rakyat yang sesungguhnya menurut Brunvad dalam The Study of American Foklore An introductionadalah (a) nyanyian rakyat yang berfungsi adalah nyanyian rakyat yang kata-kata dan lagunya memegang peranan yang sama penting. Disebut berfungsi karena baik lirik maupun lagunya cocok dengan irama aktivitas khusus dalam kehidupan manusia; (b) nyanyian rakyat yang bersifat liris, yakni nyanyian rakyat yang teksnya bersifat liris, yang merupakan pencetusan rasa haru pengarangnya yang anonym itu, tanpa menceritakan kisah yang bersambung (coherent). Sifat yang khas ini dapat dijadikan ukuran untuk membedakan nyanyian rakyat liris yang sesungguhnya, karena yang terakhir justru menceritakan kisah yang bersambung. Banyak diantaranya yang mengungkapkan perasaan sedih, putus asa karena kehilangan sesuatu atau cinta, sehingga menimbulkan keinginan-keinginan yang tak mungkin tercapai; (c) Nyanyian rakyat liris yang bukan sesungguhnya, yakni nyanyian rakyat yang liriknya menceritakan kisah yang bersambung (coherent). Ke dalam jenis nyanyian-nyanyian seperti: Spiritual and other traditional religious song (nyanyian rakyat yang bersifat kerohanian dan keagamaan lainnya).

Tidak ada syarat tertentu untuk dapat menuturkan nyanyian panjang, namun itu pun tergantung dengan kisahan yang akan dituturkan. Bagi penutur yang akan menuturkan nyanyian panjang Sejarah Saman Diwa harus punya hubungan darah dengan penutur sebelumnya. Selain itu, saat menuturkan nyanyian panjang sejarah saman Diwa sering kali penutur kesurupan, maka ayakan padi berfubgsi untuk dipukul-pukulkan penuturnya sebanyak tiga kali. Penutur yang akan menuturkan nyanyian panjang Sejarah Saman Diwa biasanya dengan berbagai sajen yang telah disiapkan terlebih dahulu. Sesajen tersebut berupa nasi pulut, ayam burik, pisang emas, serabi, bubur gemuk, beras kunyit, dan kemenyan.

Setelah sesajen disiapkan, mulailah penutur membakar kemeyan dengan membaca baca-bacaan tertentu biasanya bacaan tersebut dalam bahasa Arab. Saat itulah, penutur mulai mengingat jalinan kisah yang akan dituturkan secara lengkap dan dapat memanggil roh-roh orang yang telah meninggal dengan cara kesurupan. Mungkin, ini pulalah yang menjadi nyanyian panjang jenis ini tidak dapat bertahan karena penonton tidak bisa mendengarkan jalinan cerita dan takut kalau-kalau “kena sasaran” penutur yang sedang kerasukan.

Linny Oktovianny